Selasa, 07 Mei 2013

rasio keuangan

BJB membukukan pertumbuhan laba 32,46% menjadi Rp 369,77 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 279,07 miliar. Bien Subiantoro, Direktur Utama BJB, menjelaskan kontribusi perolehan laba lantaran pendapatan bunga meningkat dan biaya dana (cost of fund) menurun. Pada periode tersebut, bunga bersih BJB Rp 1,08 triliun dari Rp 794,29 miliar di kuartal I 2012.
BJB juga sukses memangkas biaya deposito dari sebelumnya Rp 32,3 triliun menjadi Rp 22,62 triliun. "Posisi giro BJB meningkat 28,5% menjadi Rp 15,4 triliun, dengan posisi tabungan meningkat 42,5% menjadi Rp 7,1 triliun," terang Bien.
Berbeda dengan BJB dan Bank DKI, Bank Jawa Timur (Jatim) tidak terlalu beruntung. Labanya tumbuh pas-pasan. Laba bersih Bank Jatim hanya beringsut 1,66% dari
Rp 214,62 miliar ke Rp 218,18 miliar, tertekan NPL.
Meski laba naik tipis, secara bisnis Bank Jatim tumbuh lumayan. Penyaluran kredit misalnya, naik 13,53% menjadi Rp 18,8 triliun. Pendapatan bunga bersih naik 16,7% menjadi Rp 547,93 miliar. "Sementara pendapatan non-bunga (fee base income)  meningkat dari Rp 72,57 miliar menjadi Rp 111,27 miliar, atau 53,32%," tutur Hadi Sukrianto, Direktur Utama Bank Jatim.
Berdasarkan kelayakan dari sisi teknis perbankan, Bank BJB memberikan kredit kepada KBU senilai Rp 38,7 miliar. Saat ini kolektibilitasnya lancar, dengan outstanding sebesar Rp 34,8 miliar," katanya pada Konfrensi Pers yang digelar di Praoe Seafood, Jln. Sumatra, Bandung, Selasa (26/2).
Kredit kepada KBU, lanjutnya, merupakan kredit eksekuting modal kerja kepada koperasi. Sofi juga mengatakan bahwa selain Bank BJB saat ini ada lima bank lain, berdasarkan Bank Indonesia checking, yang memberikan pinjaman kepada koperasi tersebut. "Pinjaman KBU di bank lain pun saat ini kolektibilitasnya lancar," kata Sofi.
KBU sendiri, menurut dia, memiliki track record yang baik dan masuk dalam jajaran 100 koperasi umum terbesar di Indonesia. Selain itu, koperasi yang dibentuk karyawan Alpindo tersebut juga pernah mendapat penghargaan sebagai Koperasi Serba Usaha (KSU) terbaik No 2 di Indonesia.
Sementara kredit kepada Alpindo, menurut dia, tidak dilanjutkan prosesnya karena perusahaan tersebut dinilai tidak memenuhi persyaratan teknis. Alpindo mengajukan permohonan kredit sebesar Rp 330 miliar.
Di sisi lain, terkait laporan dugaan penggelembungan biaya pembangunan Gedung T-Tower di Jln. Gatot Subroto Kav-93, Jakarta, Sofi menuturkan, kepemilikannya strata title dan telah dinilai oleh konsultan properti dengan harga per lantai serta telah dinegosiasikan dengan ketat.
Menurut dia, pembeliannya telah direncanakan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) sejak 2006. Anggaran dalam RBB Bank BJB tahun 2012 yang telah disahkan untuk pembelian kantor tersebut sebesar Rp 550 miliar.
Di tempat yang sama, Kepala Divisi Mikro Beny Riswandi Bank BJB memaparkan, sesuai hasil survey yang mereka lakukan sebelum pengguliran kredit, KBU adalah koperasi sehat.
Hal itu terlihat dari sisa hasil usaha (SHU) dari 2009 sampai 2011, masing-masing senilai Rp 814 juta, Rp 942 juta, dan Rp 6,6 miliar.
Selain itu, lanjutnya, rasio keuangan koperasi ini juga menunjukan kinerja yang baik, yakni CAR (Capital Adequacy Ratio) sebanyak 5,76 kali, ROA (Return on Assets) 8,46 persen, ROE (Return on Equity) 13,52 persen.
"Koperasi ini melakukan pembiayaan kepada pasar yang cukup jelas, kepada anggotanya terutama. Potensinya baik, jadi kucuran dananya juga cukup besar. Selain kepada KBU, kami juga menyalurkan pinjaman ke koperasi lain, nilainya kurang lebih bisa sampai Rp 15 sampai Rp 25 juta," ujarnya.
Tahun ini, Bank BJB mencanangkan penyaluran kredit sektor mikro hingga dua kali lipat tahun lalu. Pada 2012 penyaluran kredit mikro Bank BJB mencapai Rp 4,6 triliun dan ditargetkan mencapai Rp 9 triliun tahun ini. (A-150/A-89)***
http://m.pikiran-rakyat.com/node/224832
http://m.pikiran-rakyat.com/node/224832