PENALARAN
Penalaran adalah sebuah pemikiran
untuk dapat menghasilkan suatu kesimpulan. Ketika seseorang sedang melanarkan
sesuatu, maka seseorang tersebut akan mendapat sebuah pemikiran dimana
pemikiran tersebut adalah suatu kesimpulan masalah yang sedang dihadapi. Contoh
saja kalau kita sedang berkendara dan terjebak di derasnya hujan, apakah yang
akan kita lakukan?disitulah nalar kita bekerja. mencari sebuah solusi agar kita
bisa terhindar dari derasnya hujan dengan cara memikirkan sesuatu yang bisa
dipakai untuk berteduh.
Ciri-ciri penalaran :
1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas disebut logika.
2. Sifat analitik dari proses berfikir. Analisis pada
hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah
tertentu.
Tujuan penalaran.
Tujuan dari penalaran yang terjadi diatas tersebut adalah untuk
menentukansecara logis
atau objektif, apakah yang kita
lakukan itu benar atau tidak sehingga dapat dilaksanakan.
Teori-teori
yang berhubungan dengan penalaran
Penalaran Moral
Setiono (dalam Muslimin,
2004) menjelaskan bahwa menurut teori penalaran moral, moralitas terkait dengan
jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana orang sampai pada keputusan bahwa
sesuatu dianggap baik dan buruk. Moralitas pada dasarnya dipandang sebagai
pertentangan (konflik) mengenai hal yang baik disatu pihak dan hal yang buruk
dipihak lain. Keadaan konflik tersebut mencerminkan keadaan yang harus
diselesaikan antara dua kepentingan, yakni kepentingan diri dan orang lain,
atau dapat pula dikatakan keadaan konflik antara hak dan kewajiban.
Hurlock (1978) mengemukakan bahwa
tingkah laku moral berarti tingkah laku yang sesuai dengan kode moral kelompok
sosial. Pengertian ini hampir sama dengan pendapat sebagian besar ahli psikologi
dalam menerangkan masalah moral. Penganut teori behaviorisme menyatakan bahwa
moral itas identik dengan konfonnitas terhadap aturan-aturan sosial. Nilai
moral merupakan evaluasi dari tindakan yang dianggap baik oleh anggota
masyarakat tertentu. Dengan demikian jelas bahwa pemahaman moral merupakan
proses internalisasi dari norma budaya atau norma dari orangtua (Setiono,
1993).
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi
rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti
yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg,Tahapan tersebut dibuat saat ia
belajar psikologi di University
of Chicago
berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi
anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958
yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan
moral dari Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari
perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan
dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang
menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan
konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa
proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan
perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang
mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Penalaran Hukum
Penalaran hukum (legal reasoning) adalah kegiatan
berpikir problematis tersistematis (gesystematiseerd
probleemdenken) dari subjek hukum (manusia) sebagai makhluk individu dan
sosial di dalam lingkaran kebudayaannya. Penalaran hukum dapat didefinisikan
sebagai kegiatan berpikir yang bersinggungan dengan pemaknaan hukum yang
multiaspek (multidimensional dan multifaset).
Kenneth J. Vandevelde
menyebutkan lima langkah penalaran hukum, yaitu:
1.Mengidentifikasi
sumber hukum yang mungkin, biasanya
berupa peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan (identify the applicable sources of law);
2.Menganalisis
sumber hukum tersebut untuk menetapkan aturan hukum yang mungkin dan kebijakan
dalam aturan tersebut (analyze the
sources of law);
3.Mensintesiskan
aturan hukum tersebut ke dalam struktur
yang koheren, yakni strukturmyang
mengelompokkan aturan-aturan khusus di bawah aturan
umum (synthesize the applicable
rules of law into a coherent structure);
4.Menelaah
fakta-fakta yang tersedia (research the
available facts);
5.Menerapkan
struktur aturan tersebut kepada fakta-fakta untuk memastikan hak atau kewajiban
yang timbul dari fakta-fakta itu, dengan menggunakan kebijakan yang terletak
dalam aturan-
aturan
hukum dalam hal memecahkan kasus-kasus sulit (apply the structure of rules to the facts).
DEDUKTIF DAN
INDUKTIF
2. Penalaran
Deduktif
adalah proses
penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku
khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini
disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni
dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang
lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari
suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh : Masyarakat
Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan
(khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status
social.
Macam-macam
Penalaran Deduktif
Macam-macam
penalaran deduktif diantaranya :
a. Silogisme
Silogisme adalah
suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua
proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa
silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1
kesimpulan.
b. Entimen
Entimen adalah
penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya
dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
3. Penalaran
Induktif
· Pengertian
Penalaran Induktif
Penalaran induktif
adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang
berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut
Induksi. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu
memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum
teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat
sementara. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu
penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum.
Contoh :
Sejak suaminya
meninggal dunia dua tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering sakit. Setiap bulan ia
pergi ke dokter memeriksakan sakitnya. Harta peninggalan suaminya semakin
menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan, serta untuk biya hidup
sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anaknya yang tertua
dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan yang
nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh (kata kunci) berat beban
hidupnya. (Ide pokok)
· Macam-macam
Penalaran Induktif
Macam-macam
penalaran induktif diantaranya :
1. Generalisasi
Generalisasi adalah
pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang
diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan rincian. Dalam
pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data
statistik, dan lain-lain.
Contoh
generalisasi adalah setelah di adakan peninjauan dan penelitian lebih
seksama, ternyata di kawasan bandung terdapat sekurang – kurangnya lima buah
obyek wisata. Di kawasan Garu tempat obyek wisata, di kawasan tasikmalaya dan
ciamis terdapat sekurang – kurangnya enam buah obyek wisata. Di daerah lain
seperti suka bumi, banten, danyang lainnya juga terdapat obyek wisata. Dapat di
katakan bahwa daerah jawa baratmemang kaya dengan obyek wisata.
Macam-macam
generalisasi:
a. Generalisasi
sempurna
Adalah generalisasi
dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Generalisasi
macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi
tetap saja yang belum diselidiki.
b. Generalisasi
tidak sempurna
Adalah generalisasi
berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi
fenomena sejenis yang belum diselidiki.
A.Ciri-ciri paragraf berpola deduktif
Penalaran deduktif adalah proses penalaran yang bertolak dari
peristiwa-peristiwa yang sifatnya umum menuju pernyataan khusus. Apabila
diidentifikasisecara terperinci, paragraf berpola deduktif memiliki ciri-ciri
sebagai berikut :
1) Letak kalimat utama di awal paragraf
2) Diawali dengan pernyataan umum disusul dengan uraian atau penjelasan khusus
3) Diakhiri dengan penjelasan
Contohnya:
Setiap individu bersifat unik. Artinya, ia memiliki perbedaandengan yang
lain. Perbedaan itu bermacam-macam, mulaidari perbedaan fisik, pola berpikir,
dan cara merespons ataumempelajari hal yang baru. Dalam hal ini, misalnya
dalammenyerap pelajaran, ada individu yang cepat dan ada yanglambat.
B. Ciri-ciri paragraf berpola induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran yang bertolak dari
peristiwa-peristiwa yang sifatnya khusus menuju pernyataan umum. Apabila
diidentifikasi secara terperinci, paragraf berpola induktif memiliki
ciri-cirisebagai berikut :
1) Letak kalimat utama di akhir paragraf
2) Diawali dengan uraian/penjelasan bersifat khusus dan diakhiri
denganpernyataan umum
3) Paragraf induktif diakhiri dengan kesimpulan
Contoh:
Tidak sedikit para pelajar yang memiliki penyakit malasmembaca. Banyak
ilmu yang tidak tergali oleh mereka. Merekahanya mengandalkan peran guru dalam
menerima ilmu. Kondisitersebut sungguh memprihatinkan. Minat baca buku di
kalanganpelajar masih rendah.Berdasarkan paragraf tersebut, dapat dijelaskan
sebagai berikut.